Rabu, 09 November 2011

hakikat bahasa secara linguistik

Hakikat Bahasa secara Linguistik

Hakikat bahasa secara linguistik, akan membahas lebih dekat tentang filsafat bahasa dan filsafat linguistik. Filsafat bahasa ialah teori tentang bahasa yang berhasil dikemukakan oleh para filsuf, sementara mereka itu dalam perjalanan memahami pengetahuan konseptual. Filsafat bahasa ialah usaha para filsuf memahami conceptual knowledge melalui pemahaman terhadap bahasa, dimana para filsuf tersebut mencari cara mengekspresikan dan mengkomunikasikan pengetahuan dalam berbagai bidang ilmu. Filsafat linguistik bertujuan mendapatkan kejelasan tentang bahasa. Linguistik mencari hakikat bahasa.

Jadi, para sarjana bahasa menganggap bahwa kejelasan tentang hakikat bahasa itulah tujuan akhir kegiatannya, sedangkan filsafat bahasa mencari hakikat ilmu pengetahuan atau hakikat pengetahuan konseptual. Dalam usahanya mencari hakikat pengetahuan konseptual itu, para filsuf mempelajari bahasa bukan sebagai tujuan akhir, melainkan sebagai objek sementara agar pada akhirnya dapat diperoleh kejelasan tentang hakikat pengetahuan konseptual itu.

Secara umum, bidang ilmu bahasa dibedakan atas linguistik murni dan linguistik terapan. Bidang linguistik murni mencakup fonetik, fonologi, morfologi, sintaksis, dan semantik. Sedangkan bidang linguistik terapan mencakup pengajaran bahasa, penerjemahan, leksikografi, dan lain-lain. Beberapa bidang tersebut dijelaskan berikut ini.

1. Fonetik
Fonetik mengacu pada artikulasi bunyi bahasa. Para ahli fonetik telah berhasil menentukan cara artikulasi dari berbagai bunyi bahasa dan membuat abjad fonetik internasional sehingga memudahkan seseorang untuk mempelajari dan mengucapkan bunyi yang tidak ada dalam bahasa ibunya. Misalnya dalam bahasa Inggris ada perbedaan yang nyata antara bunyi tin dan thin, dan antara they dan day, sedangkan dalam bahasa Indonesia tidak. Dengan mempelajari fonetik, orang Indonesia akan dapat mengucapkan kedua bunyi tersebut dengan tepat.

2. Fonologi
Fonologi mengacu pada sistem bunyi bahasa. Misalnya dalam bahasa Inggris, ada gugus konsonan yang secara alami sulit diucapkan oleh penutur asli bahasa Inggris karena tidak sesuai dengan sistem fonologis bahasa Inggris, namun gugus konsonan tersebut mungkin dapat dengan mudah diucapkan oleh penutur asli bahasa lain yang sistem fonologisnya terdapat gugus konsonan tersebut. Contoh sederhana adalah pengucapan gugus ‘ng’ pada awal kata, hanya berterima dalam sistem fonologis bahasa Indonesia, namun tidak berterima dalam sistem fonologis bahasa Inggris. Kemaknawian utama dari pengetahuan akan sistem fonologi ini adalah dalam pemberian nama untuk suatu produk, khususnya yang akan dipasarkan di dunia internasional. Nama produk tersebut tentunya akan lebih baik jika disesuaikan dengan sistem fonologis bahasa Inggris, sebagai bahasa internasional.

3. Morfologi
Morfologi lebih banyak mengacu pada analisis unsur-unsur pembentuk kata. Seorang ahli linguistik bahasa Inggris perlu memahami imbuhan apa yang dapat direkatkan dengan suatu kata tertentu untuk menghasilkan kata yang benar. Misalnya akhiran -¬en dapat direkatkan dengan kata sifat dark untuk membentuk kata kerja darken, namun akhiran -¬en tidak dapat direkatkan dengan kata sifat green untuk membentuk kata kerja. Alasannya tentu hanya dapat dijelaskan oleh ahli bahasa, sedangkan pengguna bahasa boleh saja langsung menggunakan kata tersebut.



4. Sintaksis
Analisis sintaksis mengacu pada analisis frasa dan kalimat. Salah satu kemaknawiannya adalah perannya dalam perumusan peraturan perundang-undangan. Beberapa teori analisis sintaksis dapat menunjukkan apakah suatu kalimat atau frasa dalam suatu peraturan perundang-undangan bersifat ambigu (bermakna ganda) atau tidak. Jika bermakna ganda, tentunya perlu ada penyesuaian tertentu sehingga peraturan perundang-undangan tersebut tidak disalahartikan baik secara sengaja maupun tidak sengaja.

5. Semantik
Kajian semantik membahas mengenai makna bahasa. Analisis makna dalam hal ini mulai dari suku kata sampai kalimat. Analisis semantik mampu menunjukkan bahwa dalam bahasa Inggris, setiap kata yang memiliki suku kata ‘pl’ memiliki arti sesuatu yang datar sehingga tidak cocok untuk nama produk/benda yang cekung. Ahli semantik juga dapat membuktikan suku kata apa yang cenderung memiliki makna yang negatif, sehingga suku kata tersebut seharusnya tidak digunakan sebagai nama produk asuransi. Sama halnya dengan seorang dokter yang mengetahui antibiotik apa saja yang sesuai untuk seorang pasien dan mana yang tidak sesuai.

6. Pengajaran Bahasa
Ahli bahasa adalah guru dan/atau pelatih bagi para guru bahasa. Ahli bahasa dapat menentukan secara ilmiah kata-kata apa saja yang perlu diajarkan bagi pelajar bahasa tingkat dasar. Para pelajar hanya langsung mempelajari kata-kata tersebut tanpa harus mengetahui bagaimana kata-kata tersebut disusun. Misalnya kata-kata dalam buku-buku Basic English. Para pelajar (dan guru bahasa Inggris dasar) tidak harus mengetahui bahwa yang dimaksud Basic adalah B(ritish), A(merican), S(cientific), I(nternational), C(ommercial), yang pada awalnya diolah pada tahun 1930an oleh ahli linguistik C. K. Ogden. Pada masa awal tersebut, Basic English terdiri atas 850 kata utama.

7. Leksikografi
Leksikografi adalah bidang ilmu bahasa yang mengkaji cara pembuatan kamus. Sebagian besar (atau bahkan semua) sarjana memiliki kamus, namun mereka belum tentu tahu bahwa penulisan kamus yang baik harus melalui berbagai proses.
Dua nama besar yang mengawali penyusunan kamus adalah Samuel Johnson (1709-1784) dan Noah Webster (1758-1843). Johnson, ahli bahasa dari Inggris, membuat Dictionary of the English Language pada tahun 1755, yang terdiri atas dua volume. Di Amerika, Webster pertama kali membuat kamus An American Dictionary of the English Language pada tahun 1828, yang juga terdiri atas dua volume. Selanjutnya, pada tahun 1884 diterbitkan Oxford English Dictionary yang terdiri atas 12 volume.
Saat ini, kamus umum yang cukup luas digunakan adalah Oxford Advanced Learner’s Dictionary. Beberapa orang mungkin secara sederhana akan menjawab karena kamus tersebut lengkap dan cukup mudah dimengerti. Tidak banyak yang tahu bahwa (setelah tahun 1995) kamus tersebut ditulis berdasarkan hasil analisis British National Corpus yang melibatkan cukup banyak ahli bahasa dan menghabiskan dana universitas dan dana negara yang jumlahnya cukup besar.

Filsafat bahasa dan Linguistik Umum
Berikut ini disajikan pandangan J. R Searle (1974) tentang perbedaan istilah filsafat bahasa (philosophy of language) dengan filsafat liguistik atau filsafat kebahasaan (linguistik philosophy). Filsafat kebahasaan mengandung upaya untuk memecahkan masalah-masalah filosofis dengan cara manganalisis makna kata dan hubungan logis antar kata didalam bahasa. Ini mungkin dilakukan untuk memecahkan masalah-masalah filosofis tradisional, seperti determinisme, skeptisisme, dan sebab akibat (causation) ; atau mungkin dilakukan tanpa melihat khusus kepada masalah-masalah tradisional, melainkan sebagai penyelidikan konsep-konsep sesuai dengan minat mereka, mencari aspek-aspek tertentu “dunia luar” dengan mencermati klasifikasi dan pembedaan yang ada dalam bahasa yang kita pakai untuk mencirikan atau memerikan dunia luar tersebut.
Filsafat bahasa mengandung upaya untuk menganalisis unsur-unsur umum dalam bahasa seperti makna, acuan (referensi) kebenaran, verifikasi, tindak tutur, dan ketidaknalaran. Filsafat bahasa itu merupekan suatu pokok persoalan (pokok bahasan) dalam filsafat ; sedangkan filsafat kebahasaan terutama merupakan nama metode filosofis. Tetapi metode dan bahasan itu berhubungan erat. Mengapa? Karena beberapa masalah dalam filssafat kebahasaan.
Walaupun filsafat bahasa dan filsafat linguistik itu dilanjutkan sampai sekarang dengan kesadaran diri yang lebih dari masa lampau, keduanya ternyata sudah setua filsafat. Filsafat (yang sebenarnya mengacu ke filsafat Barat), sebagaimana yang dipelajari orang-orang yunani kuno pada tahun 600 SM. Salah seorang filosof terkenal pada jaman itu ialah Plato (hidup sekitar 400 SM). Ketika itu ia telah menulis beberapa buku. Plato mengajukan teori bahwa kata-kata umum memperoleh makna melalui bentuknya, dia dianggap sedang mengajukan tesis di alam filsafat bahasa, yaitu tesis tentang bagaimana kata itu bermakna. Dengan kata lain, Plato sebenarnya sudah berbicara tentang kata dalam hubungannya dengan maknanya.
Tetapi untuk mempelajari filsafat bahasa modren, kita tidak perlu memulai dengan menengok jauh ke sejarah filsafat jaman Yunani. Gottlob Frege menunjukkan bahwa matematika diturunkan dan ditemukan pada logika.


KESIMPULAN
Linguistik sangat berperan penting dalam linguistik murni dan linguistik terapan. Bidang linguistik murni mencakup fonetik, fonologi, morfologi, sintaksis, dan semantik. Sedangkan bidang linguistik terapan mencakup pengajaran bahasa, penerjemahan, leksikografi. Dalam linguitik murni kita akan mengkjaji tentang bunyi bahasa, analisis unsur pembentuk, analisis frasa dan kalimat serta pembentukan makna.










DAFTAR PUSTAKA

Alwi, Hasan dkk. 2003. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Jakarta : Balai Pustaka
Sumarsono. 2004. Buku Ajar Filsafat Bahasa. Jakarta :Grasindo
Hanum, Inayah. Linguistik Umum.
Jurnal Bahasa sebagai Kajian Linguistik

Tidak ada komentar:

Posting Komentar