Kamis, 19 Mei 2011

contoh resensi buku


Judul buku      : Pidato Luar Biasa
Penulis             : Deni Ambarwati
Editor              : Puput
Cover              : Ary Design
Setting             : Fafa
Penerbit:          : Genius Publiser, Yogyakarta 2010
Tebal               : 125 Halaman

Seperti isi dari kata pengantar yang memaparkan tentang masalah pidato bahwa pidato sudah mulai ditinggalkan banyak kalangan anak muda, sejatinya kemampuan berkomunikasi adalah inti yang diinginkan dari sebuah pidato. Retorika sangat penting dalam kehidupan setiap kalangan, apalagi sudah menjadi seorang pemimpin. Contohnya pemimpin bangsa kita yang mampu mengubah sejarah dengan menggunakan pidatonya yakni Seokarno yang mampu menggemparkan, dan menyemangati seluruh elemen bangsa dari tingkat terkecil hingga bangsa-bangsa besar lainnya guna mendukung perjuangan bangsa saat itu.
Buku ini sangat bermanfaat bagi semua kalangan karena didalamnya berisikan point-point penting dalam mencapai sukses ketika dalam berpidato. Seperti tips mengatasi demam panggung ketika berpidato, elemen dasar cara berpidato, metode-metode berpidato, komponen data berpidato, tips agar pidato dapat berhasil dengan baik, langkah mendasar memberi pidato mendadak, menentukan tujuan pidato, panduan membuat pidato, latihan pidato, macam-macam stres ketika sedang berpidato, bukan hanya itu masih banyak lagi yang menarik dalam buku itu yaitu contoh pidato acara muslim baik dalam isra'mi'raj, peringatan ramadhan dan pemberangkatan jama'ah haji selain itu ada juga pidato acara umum baik dalam seminar maupun dalam gelar seni dan budaya, contoh pidato acara nasional, kegiatan remaja, kegiatan warga dan adat istiadat, pidato pernikahan dan pidato sambutan pejabat, bukan hanya itu saja buku ini juga memberikan contoh pidato bahasa inggris. Bagi orang yang membaca buku tersebut akan merasa begitu nyaman serta merasa dekat dengan apa yang dipaparkannya karena isi dari buku tersebut sangat mudah dipahami serta dapat dipraktekkan dalam kehidupan kita sehari-hari.
Namun yang diungkapkan pada pembahasan elemen dasar cara berpidato yaitu tertulis pada bab 7 halaman 28, bahwa ada empat hal yang sangat berpengaruh yaitu tubuh, gerak tubuh, wajah dan mata, serta suara padahal alangkah lebih baik jika didalam buku tersebut dipaparkan mengenai karakteristik isyarat yang baik karena ketika seseorang berpidato isyarat yang digunakan juga harus sesuai dan jangan melakukannya secara berlebihan karena itu dapat mengganggu pemahaman audiens dan isyarat juga bisa menyakinkan atas apa yang kita sampaikan kepada orang lain.
Hal yang lainnya yaitu pada pembahasan mengenai topik yang menentukan tujuan pidato yaitu pada bab 10 halaman 34 dinyatakan bahwa ada 3 tujuan berpidato padahal tujuan berpidto bukan hanya itu saja tetapi ada juga yang lain seperti untuk menghibur, menstimulus, menyakinkan dan menggerakkan. Tak lupa juga saya ingin mengkritis tentang daftar isi dan halamannya karena menurut yang saya lihat dan buktikan yaitu topik atau point yang disanpaikan tidak sesuai dengan halaman yang ditentukan pada daftar isi. Contohnya pada pembahasan pidato sebagai salah satu bentuk komunikasi, pada halaman daftar isi dinyatakan bahwa topik ini berada pada halaman 9 padahal dibuku menjadi halaman 11 dan pada halaman 9 itu berisikan tentang daftar isi dan disitu terletak kesalahan dalam ketikan.
Akhir kata saya berpesan kepada semuanya bahwa buku ini sangat bermanfaat bagi orang semua yang masih pemula dalam beretorika dan mengalami kecemasan atau ketakutan ketika sedang beretorika. Di buku ini juga lengkap dengan tips yang sangat membantu kita dan mudah untuk dipahami serta dipraktekkan. jika kita sering mempraktekkannya dalam kehidupan kita maka rasa takut dalam berpidato itu akan hilang sehingga kita akan menjadi seorang orator yang handal dan terampil.
                                                                        penulis : Feronika Hutahaean
                                                                       Mahasiswa Universitas Negeri Medan
                                       Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia Stambuk 2010, Sketsa KONTAN

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar